Pages - Menu

Saturday, February 21, 2015

Hijab, My Spirit!


     Teringat saat saya memperoleh ilmu mengenai kewajiban berhijab. Ilmu yang saya dapatkan saat usia saya 14 tahun atau sekitar kelas delapan SMP. Ilmu dari seorang guru yang sabar dalam menjelaskan pentingnya berhijab bagi seorang wanita. Hijab yang akan menjadikan seorang wanita muslimah terhormat dan terjaga. Di usia 14 tahun saya mendapatkan hidayah untuk memutuskan berhijab. Keputusan besar yang saya ambil pada saat itu.

     Saya adalah seorang wanita yang berasal dari keluarga yang amat sederhana. Saya dilahirkan dari orangtua yang begitu menyayangi dan sangat baik. Saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara atau dengan kata lain saya anak bungsu. Saya dilahirkan dari keluarga yang serba kecukupan. Saya dibesarkan dalam keluarga yang beragama islam, namun kehidupan dalam keluarga tidak mengajarkan secara menyeluruh hakikat beragama islam. Pemahaman mengenai ilmu agama islam dalam keluarga sangat minim, sehingga masih banyak paradigma-paradigma “kolot” yang masih menempel pada keluarga, khususnya keluarga besar.

     Sebelum berhijab, saya adalah seorang wanita yang menyukai pakaian menyerupai laki-laki. Tahun pertama di SMP saya dikenal sebagai anak tomboy. Saya menikmati ke tomboyan yang ada pada diri saya. Berpenampilan menyerupai laki-laki dan hanya satu pakaian wanita yang  dipunya yaitu rok sekolah. Di sekolah pun saya lebih menikmati gaul dengan para laki-laki yang menurut saya para laki-laki lebih supel, tidak bermain perasaan dan tidak ribet seperti wanita pada umumnya. Berpenampilan dengan pakaian yang longgar, tas ransel dengan beban yang tidak ringan, rambut yang selalu potongan pendek model laki-laki, itulah style saya. Pada suatu hari saat saya bercanda dengan seorang teman laki-laki, tidak sengaja dia menampar wajah. Saya tahu teman saya bercanda, namun atas perilakunya itu saya berpikir betapa tidak enaknya di anggap seperti laki-laki dan tidak dihormati sebagai seorang wanita. Meskipun saya tomboy, namun saya tetaplah seorang wanita.

     Pada tahun kedua di SMP, saya lebih aktif mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang mengajarkan saya dalam bersikap, berpenampilan dan ilmu agama. Di hari ahad saya mengikuti pengajian yang rutin diadakan sepekan sekali dengan dipimpin oleh seorang guru yang baik, sabar dan tegas. Dalam pengajiannya, membahas mengenai keutamaan seorang wanita dalam berhijab. Keutamaan yang tertuang dalam surat An-Nur  ayat  31 yang menjelaskan mengenai perintah berhijab, “Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)...”. Di sambung dengan penjelasan dari hadits,“Apabila anak wanita telah melihat (darah haidnya), maka dia tidak boleh tampak tubuhnya kecuali mukanya dan kecuali selain ini. Seraya Rasulullah saw. Menggenggam hastanya, beliau meninggalkan antara genggaman dan tapak tangan sepanjang genggaman yang lain.” (HR. Thabrani).


     Penjelasan sang guru membuat saya merinding dan menyadari betapa islam sangat menghormati kaum wanita, sampai untuk berpakaian pun diatur dalam Al Qur’an dan hadis. Ada sebuah hadis  Rasulullah SAW yang membuat saya ingin menangis saat sang guru memaparkannya, “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu: (1) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi (cemeti); (2) Perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan bisa masuk syurga, dan tidak akan mencium bau syurga, padahal bau syurga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.” (HR. Muslim). Mendengar pemaparan hadits ini membuat saya tidak kuat menahan air mata. Rasa sedih, takut dan malu bercampur. Hanya satu yang ingin dilakukan pada saat itu yaitu menangis dan mohon ampun kepada Allah SWT. Setelah mengikuti pengajian ahad itu, ada ketakutan yang saya rasakan. Takut meninggal dalam keadaan tidak berhijab, takut tidak akan bisa masuk surga, bahkan mencium bau nya saja tidak bisa.

     Hari demi hari ketakutan dan kegelisahan semakin meningkat, bahkan sering menghantui dalam mimpi-mimpi. Melihat para wanita yang berhijab sempurna membuat air mata tidak pernah tertahankan. Rasa keinginan untuk berhijab semakin besar di barengi dengan keingintahuan dalam memahami ilmu agama.
Suatu hari saya melihat seorang muslimah sedang membaca doa pagi di kendaraan umum yang kami tempati. Memandangnya, membuat saya iri dan betapa cantiknya wanita itu dengan balutan hijab yang dikenakannya. Semakin saya melihat wanita itu, semakin deras air mata yang membasahi pipi dan doa pun terlantunkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Mengetahui isi hati untuk mengaminkan harapan berhijab.

     Kembali teringat dengan kondisi keluarga dan lingkungan yang mematahkan harapan saya berhijab. Pertama, kondisi keluarga yang akan menentang dalam berhijab karena belum pernah ada dalam keluarga besar seorang wanita yang masih muda berhijab dengan baik dan benar. Rata-rata karena faktor usia yang mewajibkan mereka berhijab. Kedua, kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan keluarga mendukung berhijab, karena pastinya akan ada baju yang terbeli karena keputusan berhijab saya. Ketiga, kultur di lingkungan yang masih terlihat asing saat seorang wanita muda memutuskan berhijab. Keempat, pakaian muslimah sekolah yang saya punya hanya satu pasang, dan tidak mungkin saya menggunakan pakaian panjang yang sama selama seminggu. Kelima, fashion rambut yang semakin menawarkan model-model unik, hal itu sedikit mengurungkan saya berhijab. Keenam, ketakutan dari pendapat keluarga bahwa orang  berhijab itu akan susah mendapat pekerjaan, memperbanyak uban di rambut, dan merusak kulit wajah karena pencahayaan sinar matahari terhalang oleh hijab. Ketujuh, sebulan sebelumnya ibu baru saja membelikan baju seragam sekolah berlengan pendek. Ketika saya  mengungkapkan keinginan berhijab, ibu kecewa dan melarang saya berhijab dengan alasan masih sangat muda. Tentunya faktor-faktor ini menjadi kendala yang membuat saya berpikir lama dalam memutuskan berhijab.

     Ada satu hal terpenting yang sangat mengganggu niat saya dalam berhijab yaitu karena belum bisa membaca Al Qur’an. Paradigma saya berkata bahwa orang berhijab pasti bisa membaca Al Qur’an sedangkan saya belum bisa. Kekurangan inilah yang membuat saya kurang percaya diri untuk berhijab. Masih ingat saat saya kecil di waktu magrib anak seusia saya pergi mengaji hingga ba’da isya. Namun, saya tidak diperbolehkan mengaji dengan alasan khawatir ketiduran di tempat pengajian dan memalukan keluarga. Saya merasa sedih karena masih buta huruf Al Qur’an. Sedangkan teteh-teteh saya, masih SD sudah khatam Al Qur’an. Teman-teman saya sudah bisa membaca Al Qur’an, sedangkan bacaan Al Qur’an saya sangat jauh dari kata tartil, bahkan untuk menghubungkan huruf demi huruf dalam iqro saja masih bingung.

     Kekurangan inilah yang membuat saya semakin gigih belajar membaca Al Qur’an. Mengumpulkan recehan demi recehan dari uang jajan, hingga akhirnya dapat membeli buku Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap.  Stand by setiap hari sehabis shalat magrib menyimak bacaan Al Qur’an yang dipimpin oleh seorang ustad di salah satu radio.  Semakin semangat mempelajari Al Qur’an, keinginan berhijab pun semakin mantap.

     Setelah mantap dalam berhijab, saya mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orangtua, saudara dan keluarga. Tanggapan mereka tidak hangat, bahkan mencemooh muslimah yang berpakaian tertutup.  Setiap hari saya sampaikan keinginan untuk berhijab kepada ibu, bapak, dan kakak-kakak responnya pun masih sama. Apalagi kondisi ekonomi keluarga saat itu sedang kurang bagus, karena ibu tidak lagi bekerja. Keputusan berhijab adalah keputusan saya. Saya sudah meminta izin pada kedua orangtua, saya sudah menjelaskan keutamaan berhijab dalam agama islam kepada keluarga. Bismillah, pagi itu tepatnya hari senin saya memakai pakaian panjang dengan hijab seadanya ke sekolah. Melihat pakaian yang saya kenakan, ibu hanya menanggapi dengan ketus tanpa ada ucapan selamat kepada anak bungsunya yang telah berani menutup auratnya. Sungguh pagi yang kelam, namun menjadi pagi baru dalam hidup saya karena telah memilih pilihan yang belum pernah saya duga sebelumnya. Sampai di sekolah sahabat-sahabat memberikan selamat pada saya. Dengan keinginan yang kuat dan doa yang semakin gigih pada Allah SWT, alhamdulillah saya dapat mengatasi pakaian seragam sekolah yang hanya memiliki satu pasang itu. Setiap selesai jam sekolah, saya segera pulang kerumah karena menjaga pakaian muslimah saya agar tidak cepat kotor. Setiap tiga hari sekali saya cuci sepulang sekolah, kemudian langsung dijemur hingga subuh dan disetrika hingga kering. Tidak jarang saya memakai pakaian seragam yang masih basah ke sekolah karena cukup lama mengeringkan dengan setrikaan.  Ada rasa minder, namun saya selalu berdoa dalam hati agar Allah SWT selalu melihat pengorbanan saya dalam berhijab dan berharap menjadi wanita yang Allah ridhoi masuk surga.

     Dengan pakaian muslimah seadanya yang saya punya, saya bersilaturahim ke rumah saudara, berharap memperoleh dukungan dan semangat dalam mempertahankan berhijab. Alhamdulillah, saya menerima penolakan dari para saudara dan menyuruh untuk membukanya kembali. Sungguh teramat berat ujian itu, tidak ada satu pun dukungan yang diperoleh dari keluarga. Tawa dan cemoohan yang diperoleh dari saudara-saudara atas cara berpakaian saya yang katanya norak dan seperti ibu-ibu. Terasa penolakan dimana-mana, hanya sahabat dan guru yang memberikan dukungan penuh atas keputusan yang saya ambil.

     Alhamdulillah, setelah sebulan berhijab Allah SWT menjawab doa-doa saya dengan memberi pakaian dari yang tidak disangka-sangka. Begitu terasa mudah pertolongan Allah bagi orang-orang yang sabar. Setelah itu kemudahan saya dapatkan dimana-mana. Dan satu persatu kekhawatiran saya yang menjadi penghalang dalam menunaikan berhijab hilang dan bahkan tidak terjadi. Kemampuan membaca Al Qur’an saya semakin membaik, berkah pakaian semakin banyak, ilmu semakin mudah didapat dengan mengikuti majelis-majelis ilmu. Alhamdulillah, melihat kesungguhan saya memperjuangkan hijab disertai sikap,tingkah laku yang positif dan prestasi yang baik akhirnya keluarga dan saudara berbalik menjadi bangga dengan keputusan saya. Bahkan saya menjadi satu-satunya cucu kakek yang berhasil sekolah sampai perguruan tinggi negeri. Kebahagiaan, kenyamanan, pengakuan dan semangat tinggi semakin melekat pada diri saya, layaknya hijab yang selalu melekat pada amanah tubuh ini.

     Berhijab membuat saya lebih berprestasi. Berhijab memberikan saya semangat tinggi dalam menghadapi tantangan hidup. Hijab membawa saya kedalam dunia baru yang lebih terang. Memberikan cahaya kehidupan yang lebih indah. Hijab my spirit!

No comments:

Post a Comment