Pages - Menu

Saturday, February 21, 2015

Kegigihan Sepasang Penjual Sate


Bismillah..

     Hari ini saya ingin berbagi dari pelajaran yang saya dapat di senja kemarin. 
     Tepatnya pukul 19.00 saya pulang menuju rumah dengan berkendaraan umum yang lenggang dan supir yang tergesa-gesa dalam mengendarai. Sudah sepekan ini saya melihat ada kedai di pinggir jalan dekat gang rumah yang menjual sate kambing, sate sapi dan gulai. Tentunya hal ini menarik karena di daerah saya jarang ada tukang sate dan menjadi pilihan pertama saya berhubung ibu dan ayah suka sekali dengan sate. 
     Singkat cerita, senja kemarin saat turun dari angkot, tujuan saya adalah ke tempat penjual sate itu. Percakapn pun dimulai antara saya dan penjual sate yang terdiri dari sepasang suami istri yang sudah cukup berusia. Melihat dari tempat dadakan yang dibuatnya di pinggir jalan saya dapat menyimpulkan bahwa bapak dan ibu penjual sate ini bukan penjual baru dan sudah berpengalaman.
     Kepenasaran semakin meningkat dan membuat saya ingin bercakap dengan sepasang suami istri penjual sate itu. Percakapan yang terjadi begitu hangat dan suami dan istri itu pun ramah dalam menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang saya ajukan, maklum rasa “kepo” yang tinggi saat sang penjual mulai membicarakan tentang dirinya yang dulu.
     Sang bapak memaparkan kehidupannya yang dulu sebelum sekarang mengontrak di daerah dekat rumah. Beliau menjelaskan bahwa sebelumnya beliau termasuk keluarga yang mapan dan berkecukupan, memiliki rumah, satu mobil dan dua motor dari usaha satenya. Saat di puncak kesuksesannya, keluarga bapak penjual sate itu diuji dengan adanya saingan dari tetangga yang kurang suka dengan keberhasilannya, sehingga perlahan dan hari demi hari usaha bapak dan ibu penjual sate itu semakin merugi dan akhirnya bangkrut. Bapak penjual sate memberikan nasehat, bahwa dalam berusaha saat usaha kita maju, maka jangan bersenang-senang dulu karena akan semakin banyak lawan yang tidak suka dengan keberhasilan kita. “jadi sekarang dari nol lagi dek!”, ucap bapak tukang sate.
     Sore itu memberikan pelajaran yang berharga dari sepasang orangtua yang sudah berjualan sate 20 tahun. Allah Maha Kuasa atas semua yang terjadi di bumi ini, rezeki, jodoh, usia sudah ditentukan tugas kita hanyalah menjemputnya. Alhamdulillah, sore yang indah dengan pelajaran yang berharga dari kegigihan sepasang suami istri penjual sate.
     Saya mendapat pelajaran berharga bahwa dalam membangun usaha harus “keyeng” dan fokus. Contohnya bapak dan ibu penjual sate yang sudah 20 tahun menjual sate dan sempat sukses. Saat terjatuh tidak melirik usaha lain, melainkan melanjutkan usaha lama dengan ikhtiar yang lebih dengan keyakinan besar bahwa usahanya akan kembali sukses seperti sebelumnya. Fokus, Lurus, Konsisten dan Tawakal...

No comments:

Post a Comment